Atasi Ancaman Ular dan Buaya, Pemda Taliabu Gandeng BRIN Susun Mitigasi Berbasis Sains
JAZIRAHNUSANTARA – Meningkatnya kemunculan ular piton dan buaya di sejumlah permukiman warga Kabupaten Pulau Taliabu dalam beberapa bulan terakhir mendorong pemerintah daerah mengambil langkah penanganan yang lebih komprehensif. Fenomena tersebut tidak lagi dipandang sebagai insiden satwa liar biasa, melainkan indikasi adanya perubahan pada keseimbangan ekosistem yang perlu ditangani melalui pendekatan ilmiah.
Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu pun menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk melakukan kajian mendalam terhadap faktor-faktor yang diduga memicu meningkatnya interaksi antara satwa predator dan manusia.
Bupati Pulau Taliabu, Sashabila Widya L. Mus, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk menjajaki kerja sama teknis dengan BRIN guna menyusun Rapid Ecological Assessment (REA) atau asesmen ekologis cepat sebagai dasar penyusunan kebijakan mitigasi yang lebih efektif.
“Fenomena ini harus dibedah secara komprehensif menggunakan data yang valid agar kebijakan mitigasi yang dilahirkan nantinya benar-benar tepat sasaran dan terukur,” kata Sashabila, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, pendekatan berbasis riset dipilih agar pemerintah tidak hanya berfokus pada penanganan insidental di lapangan, tetapi juga memahami akar persoalan yang menyebabkan satwa liar mulai memasuki kawasan permukiman.
Sashabila menjelaskan, kajian bersama BRIN akan menelusuri sejumlah variabel lingkungan yang berpotensi memengaruhi perubahan perilaku satwa, mulai dari perubahan tutupan lahan, gangguan habitat alami, hingga dampak cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
“Kajian mendalam akan mencakup analisis perubahan tutupan lahan di Taliabu, dampak anomali cuaca berupa curah hujan ekstrem, tingkat gangguan pada habitat asli satwa, hingga terjadinya pergeseran jalur pergerakan alami mereka,” ujarnya.
Hasil penelitian tersebut nantinya tidak hanya menjadi bahan evaluasi, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi konkret berupa sistem mitigasi jangka panjang. Salah satu target yang ingin diwujudkan adalah penyusunan early warning system atau sistem peringatan dini yang mampu mendeteksi dan meminimalkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar.
Langkah ini dinilai penting mengingat sejumlah wilayah di Indonesia menghadapi tantangan serupa akibat tekanan terhadap habitat satwa yang semakin meningkat. Perubahan bentang alam, pembukaan lahan, hingga perubahan iklim kerap menjadi faktor yang mendorong satwa keluar dari habitatnya dan mendekati kawasan yang dihuni manusia.
Sembari menyiapkan kerja sama riset dengan BRIN, Pemkab Taliabu juga tetap memperkuat respons lapangan terhadap laporan kemunculan satwa liar. DLH ditunjuk sebagai koordinator teknis utama dalam penanganan, dengan dukungan lintas sektor yang melibatkan Bhabinkamtibmas, Babinsa, Satpol PP, Dinas Pemadam Kebakaran, BPBD, serta pemerintah desa.
Bupati juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan. Ia meminta warga segera melaporkan setiap kemunculan satwa liar yang berpotensi membahayakan agar dapat ditangani oleh petugas secara aman dan sesuai prosedur.
“Saya meminta agar warga segera melaporkan setiap pergerakan satwa liar yang mencurigakan di sekitar permukiman kepada pihak desa atau instansi terkait agar dapat dievakuasi secara aman,” katanya.
Sashabila menegaskan bahwa kebijakan yang ditempuh pemerintah harus mampu menyeimbangkan dua kepentingan utama, yakni perlindungan keselamatan masyarakat dan pelestarian keanekaragaman hayati.
“Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Namun di saat yang sama, penanganan yang dilakukan harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip konservasi dan keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, pendekatan ilmiah menjadi langkah yang paling tepat untuk dilakukan saat ini,” tegasnya.
Melalui kolaborasi dengan BRIN, Sashabila Widya L Mus, Bupati Taliabu berharap dapat memperoleh gambaran utuh mengenai kondisi ekologis daerah sehingga penanganan konflik manusia dan satwa liar tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga mampu menjadi solusi berkelanjutan yang berbasis data dan ilmu pengetahuan. (red)










