Abdullah bin Ummi Maktum RA: Ketika Keterbatasan Tak Menghalangi Kemuliaan

Ustadz, Supriyanto Hasan, S.Hi
  • Oleh: Supriyanto Hasan, (Penyuluh Agama Islam, KUA Kecamatan Taliabu Utara)

 

ADA manusia yang dipandang kurang oleh dunia, tetapi justru sangat mulia di hadapan Allah SWT. Ada pula mereka yang secara lahiriah memiliki keterbatasan, namun memiliki hati yang jauh lebih kuat, iman yang lebih kokoh, dan semangat beribadah yang lebih tinggi daripada orang-orang yang merasa sempurna.

Salah satu sosok yang mengajarkan hal itu adalah Abdullah bin Ummi Maktum RA, sahabat Rasulullah SAW yang tunanetra.

Kisah hidup beliau bukan sekadar cerita tentang seorang sahabat yang tidak dapat melihat. Lebih dari itu, kisah Abdullah bin Ummi Maktum RA adalah cermin tentang bagaimana seseorang tidak membiarkan keterbatasan fisik menjadi alasan untuk menjauh dari Allah SWT.

Ketika Seorang Tunanetra Mendapat Teguran dari Langit

Nama Abdullah bin Ummi Maktum RA sangat erat dengan turunnya awal Surah ‘Abasa.

Pada suatu ketika, Rasulullah SAW sedang berdakwah kepada sejumlah tokoh Quraisy. Beliau berharap para pembesar tersebut menerima Islam, karena masuk Islamnya mereka diharapkan dapat membuka jalan dakwah yang lebih luas.

Di tengah pembicaraan itu, Abdullah bin Ummi Maktum RA datang menemui Rasulullah SAW.

Ia meminta agar Rasulullah SAW mengajarkan kepadanya sebagian dari apa yang telah Allah SWT ajarkan kepada beliau.

Karena Rasulullah SAW sedang menghadapi pembicaraan penting dengan para tokoh Quraisy, beliau menunjukkan raut wajah yang kurang berkenan dan berpaling sejenak.

Kemudian Allah SWT menurunkan teguran:

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ۝ أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ

 

“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena telah datang seorang yang buta.”

(QS. ‘Abasa: 1–2)

Teguran tersebut mengandung pelajaran yang sangat dalam.

Di hadapan Allah, manusia tidak dinilai berdasarkan siapa yang paling kaya, paling berkuasa, paling terkenal, paling tampan, atau memiliki kedudukan sosial paling tinggi.

Bahkan seseorang yang secara lahiriah dianggap lemah oleh manusia bisa memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah.

Abdullah bin Ummi Maktum RA datang bukan membawa harta, jabatan, atau pengaruh.

Ia datang membawa keinginan untuk belajar, mencari petunjuk, dan mendekat kepada Allah SWT.

Dan itulah yang membuat kisahnya terus dikenang hingga hari ini.

Keterbatasan Mata, Tetapi Tidak pada Hati

Abdullah bin Ummi Maktum RA tidak dapat melihat dunia dengan kedua matanya.

Namun, keterbatasan penglihatan itu tidak membuat hatinya kehilangan arah.

Ia tetap mencintai salat, mencintai masjid, mencintai Rasulullah SAW, dan berusaha menjalankan perintah Allah SWT.

Dalam sejumlah riwayat, disebutkan tentang kegigihannya untuk menghadiri salat berjamaah. Kondisinya tidak selalu mudah. Ia bahkan pernah menyampaikan kesulitannya karena tidak memiliki seseorang yang selalu dapat menuntunnya.

Namun, semangatnya tidak padam.

Di sinilah kita menemukan sebuah ironi kehidupan:

Ada orang yang matanya dapat melihat, tetapi hatinya jauh dari Allah. Ada pula orang yang matanya tidak dapat melihat, tetapi hatinya begitu terang dalam mengenal Tuhannya.

Maka, yang menentukan arah hidup seseorang bukan semata-mata kemampuan matanya melihat dunia, tetapi kemampuan hatinya melihat kebenaran.

 

Dipercaya Menjadi Muazin

Salah satu bentuk penghormatan Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Ummi Maktum RA adalah beliau dipercaya menjadi muazin.

Ia menjadi salah satu muazin Rasulullah SAW bersama Bilal bin Rabah RA.

Suara azan tidak mengenal perbedaan fisik.

Ketika kalimat Allahu Akbar dikumandangkan, yang dipanggil adalah seluruh manusia untuk meninggalkan kesibukan dunia dan memenuhi panggilan Allah.

Abdullah bin Ummi Maktum RA menjadi bagian dari seruan tersebut.

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak melihat seseorang hanya dari keterbatasannya, tetapi juga dari kemampuan, keimanan, dan kontribusi yang dapat diberikannya.

Keterbatasan bukan alasan untuk menutup pintu pengabdian.

Bahkan Dipercaya Menggantikan Rasulullah di Madinah

Kepercayaan kepada Abdullah bin Ummi Maktum RA juga terlihat ketika Rasulullah SAW beberapa kali meninggalkan Madinah untuk melakukan perjalanan.

Beliau pernah dipercaya untuk menggantikan Rasulullah SAW sebagai pemimpin sementara di Madinah.

Bayangkan besarnya kepercayaan tersebut.

Seorang sahabat yang secara fisik tidak dapat melihat justru dipercaya untuk menjalankan amanah dalam kehidupan masyarakat.

Hal ini mengajarkan bahwa kemampuan seseorang tidak boleh diukur hanya dari kondisi fisiknya.

Manusia sering melihat kekurangan terlebih dahulu.

Allah melihat iman, amanah, kesungguhan, dan ketakwaan.

Jangan Mengukur Kemuliaan dengan Pandangan Manusia

Kisah Abdullah bin Ummi Maktum RA terasa semakin relevan dengan kehidupan hari ini.

Di tengah masyarakat yang sering menilai seseorang berdasarkan penampilan, jabatan, kekayaan, pendidikan, popularitas, bahkan jumlah pengikut di media sosial, kisah beliau mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menilai manusia.

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui siapa yang paling mulia di sisi Allah.

Seseorang yang hidup sederhana bisa jadi memiliki amal yang besar.

Seseorang yang tidak dikenal manusia bisa jadi sangat dikenal oleh penghuni langit.

Seseorang yang memiliki keterbatasan bisa jadi memiliki kesabaran yang luar biasa.

Dan seseorang yang sering dipandang sebelah mata oleh manusia bisa jadi justru memiliki tempat yang tinggi di sisi Allah SWT.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

 

(QS. Al-Hujurat: 13)

 

Ayat ini menjadi ukuran yang sangat jelas.

Kemuliaan bukan tentang apa yang tampak di mata manusia.

Kemuliaan adalah tentang ketakwaan di hadapan Allah.

Lima Pelajaran dari Abdullah bin Ummi Maktum RA

Pertama, jangan meremehkan seseorang karena keterbatasannya.

Kekurangan fisik bukan ukuran rendahnya seseorang. Bisa jadi seseorang yang dianggap lemah justru memiliki iman dan amal yang jauh lebih kuat.

Kedua, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbuat baik.

Abdullah bin Ummi Maktum RA tidak menjadikan kondisi fisiknya sebagai alasan untuk menjauh dari ibadah.

Ketiga, jangan merasa rendah diri karena kekurangan.

Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang menggunakan apa yang dimilikinya untuk mendekat kepada Allah SWT.

Keempat, berikan kesempatan kepada setiap orang untuk berkontribusi.

Jangan membatasi seseorang hanya karena kondisi fisiknya. Selama ia memiliki kemampuan dan kemauan, berikan ruang untuk berkarya dan berbuat manfaat.

Kelima, jangan terlalu sibuk mengejar penilaian manusia.

Manusia hanya melihat apa yang tampak. Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.

Jangan Sampai Mata Kita Melihat, Tetapi Hati Kita Buta

Ada sebuah renungan penting dari kisah Abdullah bin Ummi Maktum RA.

 

Kita mungkin memiliki mata yang sehat.

Kita bisa melihat warna, wajah, harta, jabatan, kemewahan dan kehidupan dunia.

Tetapi apakah hati kita benar-benar mampu melihat kebenaran?

Sebab kebutaan yang paling berbahaya bukanlah ketika mata tidak mampu melihat dunia.

Kebutaan yang paling berbahaya adalah ketika hati tidak mampu melihat kebenaran, tidak mampu mengenali dosa, dan tidak lagi peka terhadap panggilan Allah SWT.

Abdullah bin Ummi Maktum RA tidak dapat melihat dengan mata, tetapi kehidupannya menunjukkan bahwa hatinya memiliki cahaya iman.

Sementara kita yang diberikan penglihatan sempurna justru perlu bertanya kepada diri sendiri:

Untuk apa mata ini kita gunakan?

Apakah untuk melihat kebesaran Allah dan mengambil pelajaran dari kehidupan?

Ataukah justru untuk melihat kekurangan orang lain, kemudian merendahkannya?

Kisah Abdullah bin Ummi Maktum RA bukan hanya kisah tentang seorang sahabat yang tunanetra.

Ini adalah kisah tentang keteguhan iman, kesungguhan beribadah, keberanian melawan keterbatasan, dan kemuliaan yang tidak selalu terlihat oleh mata manusia.

Beliau mengajarkan kepada kita bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjalanan.

Jangan pernah merasa tidak berguna hanya karena memiliki kekurangan.

Jangan pernah merendahkan seseorang hanya karena kondisi fisiknya.

Dan jangan pernah menganggap diri kita lebih mulia hanya karena memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

Sebab pada akhirnya, manusia boleh menilai dengan mata.

Tetapi Allah menilai dengan keimanan, ketakwaan, keikhlasan, dan amal.

Semoga kisah Abdullah bin Ummi Maktum RA menjadi pengingat bagi kita untuk lebih rendah hati, lebih menghargai sesama, lebih mencintai ibadah, dan tidak mudah menyerah terhadap keterbatasan.

Semoga Allah SWT menerangi hati kita dengan iman, menguatkan langkah kita dalam ketaatan, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mulia bukan karena pandangan manusia, tetapi karena ketakwaan di hadapan-Nya.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِيمَانَ وَالتَّقْوَى وَالثَّبَاتَ عَلَى

الطَّاعَةِ

“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami iman, ketakwaan, dan keteguhan dalam ketaatan.”. ***


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup