BBM Subsidi 40 Ton Raib Tiga Hari, Warga Bapenu Bongkar Dugaan Mafia Jerigen di SPBU Kompak
JAZIRAHNUSANTARA – Warga Desa Bapenu, Kecamatan Taliabu Selatan, Kabupaten Pulau Taliabu, mengeluhkan pelayanan di SPBU Kompak yang dinilai lebih memprioritaskan pengisian BBM menggunakan jerigen ketimbang kendaraan milik masyarakat. Kondisi tersebut menyebabkan stok BBM subsidi disebut cepat habis hanya dalam waktu tiga hari setelah pasokan masuk.
Seorang warga Desa Bapenu yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengungkapkan, belum lama ini SPBU Kompak menerima pasokan BBM sekitar 40 ton. Namun, dalam waktu singkat stok tersebut sudah habis sehingga banyak pengendara tidak lagi kebagian bahan bakar.
“Di SPBU Kompak Desa Bapenu kemarin masuk minyak sekitar 40 ton, tapi penjualannya cuma tiga hari sudah habis. Kendaraan yang mau isi BBM setelah tiga hari sudah tidak dapat lagi,” ujarnya kepada media ini, Sabtu (09/05/2026).
Menurutnya, pihak SPBU berdalih stok BBM tidak bisa bertahan lama karena mengalami penyusutan. Akan tetapi, warga menilai alasan tersebut tidak masuk akal lantaran pengisian BBM justru lebih dominan dilakukan menggunakan jerigen.
“Kalau masuk minyak hari ini, besoknya langsung pengisian galon atau jerigen. Saya kira mereka tahan untuk kendaraan masyarakat, ternyata dijual semua ke pengecer pakai jerigen supaya cepat habis,” katanya.
Warga juga menduga pihak SPBU Kompak lebih mengutamakan pelayanan kepada pengecer karena BBM diduga dijual kembali dengan harga lebih tinggi di tingkat eceran.
“Lebih parah lagi, pihak SPBU jual ke pengecer sampai Rp11.500 per liter, lalu dijual lagi dengan harga lebih mahal,” ungkapnya.
Akibat praktik tersebut, masyarakat pengguna kendaraan bermotor justru mengalami pembatasan saat membeli BBM. Bahkan, pengendara yang melakukan pengisian lebih dari satu kali dalam sehari disebut langsung mendapat teguran dari petugas SPBU.
“Kasihan masyarakat yang pakai motor. Kalau sudah isi dua kali sehari langsung ditegur, dibilang isi ulang,” tambahnya.
Ia menegaskan, SPBU Kompak sejatinya merupakan bagian dari program BBM Satu Harga yang bertujuan menjamin masyarakat di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) memperoleh akses BBM dengan harga yang sama seperti di daerah lain.
Berdasarkan informasi per Mei 2026, harga BBM subsidi jenis Pertalite masih berada di kisaran Rp10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi Rp6.800 per liter.
“Masyarakat di sini kasihan, minta tolong jangan bikin orang sengsara. SPBU Kompak jangan bertindak semaunya,” tegasnya.
Tak hanya itu, warga juga menyoroti sistem pengisian BBM di SPBU yang dinilai tidak sesuai prosedur. Mesin dispenser pengisian kendaraan disebut jarang digunakan dan hanya menjadi pajangan.
“Mesin takaran pengisian ke kendaraan tidak pernah digunakan, cuma jadi pajangan saja. Semua diisi pakai liter manual,” tutupnya.
Sementara itu, pasokan BBM Bersubsidi di SPBU Kompak Desa Bapenu sudah menjelang dua Minggu belum juga tiba, akibatnya aktifitas masyarakat setempat ketika berangkat ke kebunda dan melaut juga terhambat.(red)










