Viral Dugaan Siswa Disuruh Makan Lumpur, PGRI Pastikan Itu Miskomunikasi

Ketua PGRI Taliabu, Dahlan Memediasi Guru, dan Orangtua Siswa yang diduga menyuruh makan lumpur, Selasa (05/05/2026). Foto:PGRI Taliabu

 

JAZIRAHNUSANTARA — Isu dugaan guru menyuruh siswa memakan lumpur di SD Negeri 1 Bobong, Desa Wayo, Kabupaten Pulau Taliabu, dipastikan hanya kesalahpahaman atau miskomunikasi saja. Hal itu disampaikan Ketua PGRI Kabupaten Pulau Taliabu, Dahlan, usai pertemuan bersama orang tua murid, para murid, Guru dan dewan guru SD negeri 1 Bobong, Selasa (05/05/2026).

Dahlan yang juga Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Taliabu Barat menyebutkan bahwa pertemuan antara pihak sekolah, orang tua wali murid, serta dewan guru untuk mengklarifikasi kejadian yang sempat menimbulkan kegaduhan tersebut.

Menurut Dahlan, berdasarkan hasil pertemuan, tidak pernah ada tindakan guru yang memaksa apalagi menyuruh siswa makan lumpur.

“Dari hasil pertemuan tadi, ibu guru tidak pernah menyuruh atau memaksa anak-anak makan tanah. Tidak pernah. Saat itu anak-anak hanya bermain lumpur di luar kelas disaat jama belajar berlangsung,” jelas Dahlan.

Ia menerangkan, kejadian bermula saat jam belajar berlangsung namun sejumlah siswa berada di luar ruangan dan kedapatan bermain lumpur. Guru yang bersangkutan kemudian menegur siswa dengan kalimat yang dinilai kurang tepat.

“Guru hanya menegur, ‘kenapa main lumpur terus, enak kah itu lumpur, coba rasa dia’. Itu bahasa yang keliru dan sudah diakui oleh guru. Tapi tidak ada tindakan menyuruh makan,” ujarnya.

Setelah ditegur, Guru tersebut kemudian kembali masuk ke ruang kelas untuk melanjutkan kegiatan belajar seperti biasa. Namun, situasi berkembang ketika siswa pulang ke rumah dengan kondisi masih terdapat sisa lumpur di bagian wajah.

“Orang tua melihat anaknya seperti itu lalu mengira anaknya disuruh makan lumpur oleh guru. Dari situlah terjadi kesalahpahaman,” kata Dahlan.

Ia juga mengungkapkan, dalam pertemuan tersebut ditemukan adanya persoalan lain yang turut mempengaruhi kondisi siswa, termasuk dugaan masalah di luar konteks kejadian tersebut.

Selain itu, pengawas sekolah juga sempat menguji kemampuan dasar siswa seperti membaca dan berhitung, yang hasilnya menunjukkan masih adanya kekurangan dalam proses pembelajaran.

“Hal-hal dasar seperti membaca dan berhitung ternyata masih belum dikuasai dengan baik oleh sebagian siswa. Ini menjadi perhatian bersama,” tambahnya.

Dahlan menyayangkan reaksi sebagian orang tua yang langsung datang dengan emosi tanpa menempuh jalur komunikasi yang semestinya, seperti berkoordinasi dengan kepala sekolah atau komite sekolah.

“Kalau ada masalah, sebaiknya diselesaikan secara baik-baik. Temui dulu kepala sekolah atau komite. Jangan langsung marah-marah karena itu justru memperkeruh keadaan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa konflik yang tidak terkendali dapat berdampak luas, termasuk terganggunya aktivitas belajar mengajar di sekolah.

“Akibat kejadian itu, hampir satu hari proses belajar mengajar terganggu. Ini tentu merugikan banyak pihak, terutama siswa-siswi lainya di SD Negeri 1 Bobong,” ujarnya.

Dahlan menekankan pentingnya sinergi antara guru dan orang tua dalam mendidik anak agar setiap persoalan dapat diselesaikan secara bijak dan tidak berujung konflik.

“Kalau guru dan orang tua saling memahami dan bekerja sama, saya yakin masa depan anak-anak akan baik. Tapi kalau diselesaikan dengan emosi, kita justru kehilangan solusi,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa di era saat ini, dengan pengawasan yang ketat terhadap dunia pendidikan, sangat kecil kemungkinan guru melakukan tindakan yang disengaja untuk menyakiti siswa.

Dahlan juga berharap kepada setiap orang tua siswa siswi agar ke depan setiap permasalahan dapat diselesaikan secara berjenjang dan proporsional.

“Lihat dulu kebenarannya, tempuh tahapan penyelesaian. Jangan langsung menyimpulkan. Karena belum tentu semua laporan itu benar. Yang terpenting, orang tua dan guru tetap semangat mendidik agar anak-anak menjadi lebih baik,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup