Petani Makian Kirim Surat Terbuka ke Presiden, Soroti Minimnya Dukungan Program Ketahanan Pangan
JAZIRAHNUSANTARA – Kegelisahan petani hortikultura di Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, mencuat ke ruang publik. Melalui sebuah surat terbuka yang diunggah di media sosial, mereka mengaku belum tersentuh program ketahanan pangan yang selama ini digaungkan pemerintah.
Surat terbuka tersebut ditulis oleh Budi S. Boko, Ketua Komunitas Petani Hortikultura Pulau Makian. Media ini mengutip isi surat yang diunggah melalui laman Facebook pribadi Budi S. Boko, Minggu (12/04/2026).
Dalam suratnya, Budi menyampaikan bahwa para petani di wilayah kepulauan seperti Pulau Makian merasa seolah dilupakan di tengah gencarnya program ketahanan pangan nasional.
“Kami para petani di Pulau Makian merasa seolah terlupakan. Program-program yang digagas di tingkat pusat dan daerah selama ini nyaris tidak pernah menyentuh tanah kami,” tulis Budi.
Ia menegaskan, Pulau Makian sebenarnya memiliki potensi besar sebagai penyangga kebutuhan hortikultura, seperti cabai, tomat, dan berbagai jenis sayur-mayur, khususnya untuk wilayah Halmahera Selatan dan Maluku Utara secara umum.
Namun demikian, menurutnya, para petani masih harus berjuang secara mandiri tanpa dukungan nyata dari pemerintah. Ia merinci sejumlah persoalan yang dihadapi petani, mulai dari keterbatasan akses sarana produksi seperti bibit unggul, pupuk, dan mulsa, hingga minimnya infrastruktur pertanian.
Selain itu, petani juga mengeluhkan kurangnya pendampingan teknis yang berkelanjutan agar hasil pertanian mereka mampu bersaing, baik dari sisi kualitas maupun harga di pasaran.
“Kami adalah pejuang pangan di garda terdepan kepulauan. Namun tanpa pemerataan program, ketahanan pangan hanya akan menjadi slogan indah yang kami dengar di televisi, tanpa pernah kami rasakan di ladang kami,” lanjutnya.
Melalui surat tersebut, Budi juga memohon perhatian Presiden Republik Indonesia agar dapat menginstruksikan kementerian terkait dan pemerintah daerah untuk turun langsung melihat kondisi petani di Pulau Makian.
Ia berharap, petani di wilayah kepulauan tidak hanya menjadi penonton, tetapi dapat dilibatkan secara aktif dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.
“Kami ingin menjadi bagian dari kemajuan pangan Indonesia, bukan hanya menjadi penonton di rumah sendiri,” tutupnya dalam surat tersebut.
Surat terbuka ini menjadi pengingat bahwa pemerataan program pertanian masih menjadi pekerjaan rumah, terutama bagi wilayah-wilayah kepulauan yang memiliki potensi besar namun belum mendapatkan perhatian maksimal. (red)










