Dari Amarah hingga Keharuan, Bupati Sashabila Dengarkan Jeritan Hati Petani Taliabu Korban Karhutla

Bupati Taliabu Sashabila Widya L Mus saat meninjau Posko terjauh karhutla di Bukit salome, desa ufung, Kecamatan Taliabu Utara. (Foto: istimewa)

JAZIRAHNUSANTARA – Di balik kebun cengkeh yang menghitam dilalap api, tersimpan cerita tentang kehilangan, kekecewaan, dan harapan yang belum padam. Bagi para petani di Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar bencana yang menghanguskan tanaman, melainkan ancaman terhadap sumber penghidupan yang selama ini menopang keluarga mereka.

Di tengah situasi itu, kehadiran Bupati Pulau Taliabu, Sashabila Widya L. Mus, menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan langsung kegelisahan mereka. Ada keluhan, pertanyaan tentang masa depan kebun, hingga harapan agar pemerintah hadir membantu mereka melewati masa sulit.

Suasana pertemuan itu memperlihatkan betapa berat dampak yang dirasakan masyarakat. Ketika tanaman yang dirawat bertahun-tahun musnah dilalap api, yang hilang bukan hanya pohon cengkeh, tetapi juga harapan atas hasil panen yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membiayai pendidikan anak-anak.

Bersama Wakapolres Pulau Taliabu, Kompol M. Nasaruddin Haya, serta sejumlah pimpinan perangkat daerah, Bupati Sashabila mengunjungi sejumlah posko dan wilayah terdampak, mulai dari Desa Buambono, Tikong, Ufung, Todoli, Lede, Nggele, hingga Salati.

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk melihat langsung kondisi di lapangan sekaligus mendengarkan keluhan warga yang terdampak bencana.

Bagi petani cengkeh, waktu yang dibutuhkan untuk membangun kembali kebun bukan perkara singkat. Tanaman yang terbakar membutuhkan penanganan, sementara pemulihan penghasilan keluarga menjadi persoalan yang harus dihadapi sejak sekarang.

Di hadapan masyarakat, Sashabila menyampaikan permohonan maaf atas musibah yang telah merusak tanaman produktif milik warga. Ia juga meminta masyarakat memberinya kesempatan untuk mengupayakan bantuan bagi kebun yang terdampak.

“Atas nama Pemerintah Daerah Pulau Taliabu, saya menyampaikan permohonan maaf atas kehilangan pohon cengkih bapak-ibu sekalian. Saat ini, berikan saya kesempatan untuk berupaya dan berusaha agar semua tanaman bapak-ibu yang rusak karena karhutla bisa dibantu,” ucap Sashabila, saat menemui warga terdampak karhutla, Selasa (13/10/20206).

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa persoalan yang dihadapi warga tidak berhenti pada upaya memadamkan api. Setelah kebakaran terkendali, pekerjaan besar berikutnya adalah membantu masyarakat memulihkan sumber penghidupan mereka.

Sashabila mengatakan, pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan kementerian terkait, termasuk Kementerian Pertanian, untuk mengupayakan dukungan bagi petani yang kehilangan tanaman produktif akibat karhutla.

“Kami akan berkoordinasi dengan kementerian terkait, seperti Kementerian Pertanian dan kementerian lainnya, sehingga dapat membantu bapak-ibu,” katanya.

Saat salah seorang warga menanyakan kemungkinan ganti rugi atas tanaman yang rusak, Sashabila menyatakan pemerintah daerah akan memikirkan solusi terbaik untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kerusakan kebun tersebut.

Namun, harapan warga kini berhadapan dengan kenyataan bahwa pemulihan kebun membutuhkan proses. Karena itu, upaya mencari dukungan dari pemerintah pusat dan kementerian terkait menjadi salah satu langkah yang disampaikan pemerintah daerah untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Di tengah duka petani, upaya memadamkan api juga terus berjalan.

Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu mengerahkan berbagai sumber daya untuk menangani karhutla, mulai dari tim gabungan yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN), TNI, Polri, petugas pemadam kebakaran, Satpol PP, hingga relawan.

Pemerintah daerah juga mengupayakan pemanfaatan teknologi drone untuk menjangkau titik api di medan yang sulit. Selain itu, koordinasi dilakukan untuk mendatangkan bantuan udara berupa helikopter yang saat itu disebut tersedia di Gorontalo.

“Kami sedang berupaya agar helikopter bisa hadir. Unit tersebut saat ini tersedia di Gorontalo, dan kita sudah berkomunikasi. Namun, karena wilayah Sulawesi secara keseluruhan juga mengalami hal yang sama, ada penyesuaian. Meski begitu, kita terus berupaya agar api di wilayah dengan medan sulit dapat dipadamkan seutuhnya,” ujar Sashabila.

Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan darurat untuk menekan meluasnya kebakaran, terutama di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih, kabar hujan di Kecamatan Lede turut membawa harapan bagi masyarakat dan petugas yang berjibaku di lapangan.

“Alhamdulillah, di wilayah Kecamatan Lede sudah diguyur hujan. Semoga dengan hadirnya hujan ini dapat sangat membantu upaya pemadaman kita bersama,” tuturnya.

Hujan menjadi secercah harapan di tengah perjuangan panjang menghadapi karhutla. Namun, bagi petani yang kebunnya telah terbakar, berakhirnya kebakaran hanyalah awal dari perjuangan lain: memulihkan tanaman dan membangun kembali penghidupan keluarga.

Di penghujung pertemuan, Sashabila menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan seluruh personel yang terlibat dalam penanganan karhutla. Ia berterima kasih kepada unsur TNI-Polri, petugas Damkar, Satpol PP, jajaran ASN, serta relawan yang telah mengerahkan tenaga dan waktu untuk membantu memadamkan api di berbagai wilayah terdampak.

“Saya ucapkan terima kasih kepada masyarakat, tim gabungan TNI-Polri, petugas Damkar, Satpol PP, hingga jajaran ASN yang dengan tulus rela menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran untuk berjibaku melakukan pemadaman api di seluruh wilayah terdampak,” kata Sashabila.

Sambil merapatkan kedua tangannya di hadapan warga, ia menyampaikan ungkapan terima kasih, keharuan, sekaligus permohonan maaf.

Pertemuan itu memperlihatkan sisi lain dari bencana yang tengah dihadapi Pulau Taliabu. Di balik kepulan asap dan kebun yang menghitam, ada petani yang menunggu kepastian, keluarga yang mencemaskan masa depan, serta harapan agar bantuan tidak berhenti setelah api berhasil dipadamkan.

Bagi mereka, kehadiran pemerintah menjadi penting. Namun, yang paling dinantikan setelah masa darurat berlalu adalah langkah nyata untuk memulihkan kebun dan mengembalikan sumber penghidupan yang telah direnggut karhutla.

Sebab, bagi petani Taliabu, bangkit dari kebakaran bukan hanya tentang menunggu api padam, melainkan juga tentang menemukan kembali harapan di antara tanaman yang tersisa. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup