Fundamentals of System Security

Rahmat Guret. (Foto: istimewa)

Oleh: Rahmat Guret S.Kom.,M.Tp

(Dosen Institut Teknologi Gamalama, Maluku Utara)

PERKEMBANGAN teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Aktivitas yang dahulu dilakukan secara manual kini semakin banyak beralih ke sistem digital, mulai dari transaksi keuangan, pelayanan publik, pendidikan, hingga komunikasi sehari-hari. Kemudahan ini memberikan manfaat yang besar, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan baru, terutama dalam menjaga keamanan data dan informasi.

Keamanan sistem informasi menjadi kebutuhan penting karena data merupakan aset berharga bagi individu, lembaga pendidikan, instansi pemerintah, maupun dunia usaha. Kebocoran data, pencurian informasi, dan penyalahgunaan akses dapat menimbulkan kerugian, baik secara finansial maupun terhadap kepercayaan masyarakat.

Oleh karena itu, pemahaman mengenai dasar-dasar keamanan sistem informasi perlu dimiliki oleh setiap pengguna teknologi, bukan hanya oleh tenaga ahli di bidang teknologi informasi.

Mengenal Steganografi, Teknik Menyembunyikan Pesan

Steganografi memiliki arti berkomunikasi dengan cara menyembunyikan pesan kedalam suatu media tertentu, istilah Steganografi berasal dari bahasa Yunani dengan arti tulisan tersamarkan (Nurrofiq, Nurjaya, 2022). Teknik steganografi ini menjadi salah satu metode dalam mengamankan informasi dalam sebuah sistem dengan menyisipkan pesan rahasia kedalam media digital yang dipilih, seperti file text , file audio, file video maupun file citra. Media digital yang digunakan sebisa mungkin tidak mengubah data baik dalam besaran ukuran data atau kualitas data, sehingga secara kasat mata media digital tidak menimbulkan kecurigaan terhadap pihak ketiga yang menggunakannya. Mengamankan informasi dengan Steganografi dapat pula digunakan sebagai otentikasi akan kepemilikan data asli, sehingga data tersebut dapat diklaim sebagai identitas kepemilikian jika ada pihak menyebarkan secara ilegal.

Kriteria penting dalam Steganografi

Dalam melakukan teknik Steganografi perlu diperhatikan beberapa hal penting antara lain (Rinaldi Munir, 2004) :

Ukuran Pesan: perlu memperhatikan kapasitas pesan yang disimpan kedalam media file yang menampung pesan rahasia dengan menggunakan teknik Steganografi tertentu. Kapasitas pesan tidak lebih besar dari kapasitas media penampung, akibat yang diperoleh salah satunya adalah kualitas media penampung dapat terganggu.

Kemampuan Deteksi: undetectability merupakan kemampuan dalam menghindari deteksi artinya pesan yang disimpan/disisip kedalam media file tidak mudah diketahui keberadaannya.

Robustness: Kemampuan teknik Steganografi dalam menghadapi metode manipulasi pada media penampung, yang mana kondisi ini dapat menghilangkan atau merusak pesan yang tersimpan pada media penampung. Contoh manipulasi pada media penampung adanya perubahan kontras, cropping, penajaman , compress dan sebagainya.

Metode Steganografi 1) Metode Substitusi : Metode yang melakukan pertukaran piksel tertentu pada cover media file dengan piksel pada pesan yang tersimpan salah satu model metode yang dapat digunakan adalah metode Least Significant Bit (LSB). 2) Metode Domain Transformasi : Menyisipkan pesan rahasia pada ruang transformasi pada cover media file. 3) Metode Spread Spectrum (Spektra Tersebar) : Metode ini menggunakan pentransmisian dengan Pseudenoise code yang independent pada data cover media file, terdapat tiga proses pada metode ini yaitu menyebarkan(spread), modulasi, dan menyimpan pesan ke media file. 4) Metode Statistik : Skema steganografi 1 bit. Skema tersebut menanamkan satu bit informasi pada media penampung.

Kriptografi

Teknik kriptografi sangat dibutuhkan untuk mengamankan data yang dikirim kepada yang berhak menerima dengan menghindari gangguan serangan dari pihak lainnya, seperti gangguan penyadapan dan perubahan data (Jamaludin et al., 2022). Keamanan data terus meningkat dalam kemajuan teknologi yang ada saat ini dan tidak dapat dihindari, seperti militer dan misi diplomatik. Menurut Richard A. Mollin (Mollin 2006), istilah Kriptografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Crypto yang artinya tersembunyi dan Graphein yang artinya menuliskan. Diartikan kriptografi adalah suatu ilmu yang mempelajari teknik pengiriman pesan rahasia sehingga pesan yang diterima penerima dapat membuka dan membaca pesanPemilihan teknik kriptografi perlu mempertimbangkan kebutuhan keamanan, karakteristik sistem, dan pengelolaan kunci. Penggunaan teknologi penyandian saja tidak cukup apabila kunci disimpan sembarangan atau dibagikan kepada pihak yang tidak berwenang.

Kriptografi memiliki dua tahapan proses, yaitu tahap Enkripsi dan tahap Dekripsi. Enkripsi adalah proses mengubah atau mengacak data asli (Plaintext) dengan menggunakan sandi, sehingga data menjadi rahasia dan hanya dapat dibaca oleh penerima data, data yang dirahasiakan tersebut dikatakan Chipertext. Chipertext dapat dikirimkan ke pihak tertentu melalui komunikasi terbuka. Dekripsi adalah proses membaca atau membuka Chipertext dengan sandi atau key, sehingga memperlihatkan data aslinya.

Perbedaan kriptografi dan steganografi dapat dilihat dari tekniknya. Dalam steganografi, bentuk pesan/informasi tidak diubah bentuk, namun pesan itu disembunyikan kedalam media digital seperti file text, audio, citra dan video, sedangkan kriptografi memaksakan perubahan pada pesan dengan menggunakan Key untuk proses enkripsi dan dekripsi, kemudian mengirimkan pesan dalam komunikasi menggunakan jaringan. Kriptografi hanya bisa dilakukan pada media file text saja. 1. Kerahasian dengan Enkripsi Simetris Ada beberapa model enkripsi dengan menggunakan kunci simetris, diantaranya Simple Chipher, Caesar Chiper, DES, Rivest Code 2(RC2), Rivest Code 4 (RC4), Blowfish, Enigma Chiper (Stiawan, 2005).

Enkripsi dengan kunci simetris dilakukan melalui persetujuan antara pengirim dan penerima pesan, persetujuan ini diperoleh melalui komunikasi lain seperti pertemuan langsung atau menggunakan media elektronik (email, telfon dll). Selama proses enkripsi pesan dilakukan perlu penjagan yang ketat untuk menghindari pihak luar mengetahuinya. Kesepakan akan kunci (key) diatas biasa disebut sebagai private key (kunci pribadi). Kelebihan akan menggunakan enkripsi simetris nampak pada kecepatan proses enkripsi dan dekripsi pada pesan, kelemahan pada enkripsi simetris ini terletak pada kunci private yang sama, jika kunci private ini dikirimkan melalui media yang tidak aman, seperti jaringan internet dimana biasa terjadi serangan oleh pihak yang tidak berhak, maka enkripsi ini dapat tidak dikatakan aman lagi. Kelemahan lainnya dapat dilihat dengan banyaknya jumlah pengguna kunci (n), dimana n(n-1)/2 kunci (Sari et al. 2020), maka pengguna kunci sangat banyak, untuk situasi tersebut metode ini tidak efisien.

Ancaman terhadap Keamanan Sistem

Penyadapan komunikasi, upaya menebak atau memperoleh kunci, penyamaran identitas, serta manipulasi pesan merupakan contoh serangan yang dapat mengganggu keamanan informasi.

Selain serangan yang disengaja, kesalahan manusia dan kegagalan perangkat juga dapat menyebabkan informasi hilang, rusak, atau tidak dapat diakses. Karena itu, keamanan sistem harus dirancang dengan memperhatikan aspek teknologi, prosedur kerja, dan perilaku pengguna.

Pengamanan tidak cukup dilakukan setelah terjadi masalah. Organisasi perlu melakukan evaluasi terhadap sistem, mengidentifikasi kerentanan, mengelola risiko, serta menyiapkan langkah pemulihan apabila terjadi gangguan.

Membangun Kesadaran Keamanan Digital

Penerapan keamanan sistem informasi harus dimulai dari kebiasaan sederhana. Pengguna perlu menjaga kerahasiaan kata sandi, tidak sembarangan membuka tautan mencurigakan, membatasi akses terhadap data penting, serta melakukan pencadangan data secara berkala.

Lembaga dan organisasi juga perlu menerapkan pengaturan hak akses berdasarkan tugas dan tanggung jawab, memperbarui perangkat lunak, serta memberikan edukasi keamanan kepada seluruh pengguna sistem.

Di lingkungan pendidikan, pemahaman mengenai keamanan sistem informasi menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang mampu menggunakan dan mengembangkan teknologi secara bertanggung jawab. Mahasiswa bidang teknologi informasi perlu memahami bukan hanya cara membangun aplikasi, tetapi juga bagaimana melindungi data yang dikelola oleh aplikasi tersebut.

Keamanan Informasi Adalah Tanggung Jawab Bersama

Keamanan sistem informasi bukan semata-mata persoalan perangkat lunak atau kecanggihan teknologi. Keamanan merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan kombinasi antara teknologi, kebijakan, pengawasan, dan kesadaran manusia.

Steganografi dan kriptografi memberikan gambaran bahwa informasi dapat dilindungi melalui berbagai pendekatan. Namun, efektivitas perlindungan tetap bergantung pada penerapan yang tepat, pengelolaan kunci, pengendalian akses, dan kedisiplinan pengguna.

Di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat pada layanan digital, memahami dasar-dasar keamanan sistem informasi menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem digital yang lebih aman, tepercaya, dan bertanggung jawab.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup