Pemkab Taliabu Bidik Sawah Desa Bahu Masuk Program 2027
JAZIRAHNUSANTARA – Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mulai memetakan potensi pengembangan lahan sawah di Desa Bahu. Langkah ini ditandai dengan peninjauan langsung lokasi garapan Kelompok Tani Mamiri Bahu, Selasa (8/09/2026) kemarin.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pulau Taliabu, Atma, bersama tim penyuluh pertanian turun langsung mengecek kondisi lahan sekaligus melihat kesiapan kelompok tani dalam mengembangkan areal tersebut menjadi lahan persawahan.
Dari hasil peninjauan, Atma menilai lahan yang berada di Desa Bahu memiliki potensi yang cukup baik untuk dikembangkan sebagai kawasan persawahan.
“Hasil kunjungan hari ini untuk lahan sawah di Bahu terbaik. Insyaallah 2027 torang anggarkan lahan sawah untuk Bahu,” kata Atma.
Menurut dia, peninjauan lapangan menjadi bagian penting sebelum pemerintah menentukan prioritas pengembangan lahan pertanian. Pemerintah daerah, kata Atma, akan memberikan perhatian terhadap lokasi yang dinilai memiliki potensi dan layak untuk dikembangkan.
“kami kalau sudah turun dan masuk akal akan diprioritaskan sampai berhasil,” ujarnya.
Atma juga menyampaikan harapannya agar rencana pengembangan sawah di Desa Bahu dapat masuk dalam daftar program yang akan diusulkan ke Kementerian terkait pada 2027.
“Insya Allah 2027 nanti sawah Desa Bahu rencana kita masukan daftar di kementerian,” katanya.
Rencana tersebut mendapat respons positif dari Kelompok Tani Mamiri Bahu. Ketua Kelompok Tani Mamiri Bahu, Nasir Komba, mengatakan kunjungan kepala dinas bersama tim penyuluh menjadi momentum penting bagi kelompoknya untuk mendapatkan dukungan pemerintah dalam membuka lahan persawahan.
“Kehadiran Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian beserta tim penyuluh di lokasi garapan kelompok tani adalah untuk meninjau lahan sawah. Semoga berjalan lancar dan kami minta doa serta dukungannya,” kata Nasir.
Nasir menjelaskan, pembukaan lahan saat ini masih dilakukan secara manual. Dengan keterbatasan peralatan, kelompok tani menargetkan tahap awal pembukaan lahan sekitar setengah hektare.
“Kita buka ini awalnya manual saja, insyaallah bisa 1/2 hektare,” ujarnya.
Meski demikian, kelompok tani masih menghadapi kondisi cuaca yang menjadi salah satu tantangan dalam proses pembukaan lahan. Kemarau membuat aktivitas pembukaan lahan, terutama dengan metode pembakaran, harus dilakukan secara hati-hati.
“Persoalan kendala tidak ada, cuma persoalan kemarau jadi agak segan bakar lahan,” kata Nasir.
Ia mengaku kelompok tani memahami imbauan pemerintah untuk tidak membuka lahan perkebunan dengan cara membakar, terlebih di tengah kondisi musim kemarau.
Nasir berharap dukungan pemerintah daerah dapat terus berlanjut sehingga lahan yang mulai dibuka secara swadaya tersebut dapat berkembang menjadi kawasan persawahan yang produktif.
“Sudah seperti itu imbauannya. Kami minta dukungannya,” ujarnya.
Peninjauan tersebut menjadi langkah awal bagi Pemkab Pulau Taliabu untuk melihat secara langsung potensi lahan pertanian di Desa Bahu. Jika dinilai layak dan memenuhi persyaratan, pengembangan lahan sawah tersebut berpeluang menjadi salah satu prioritas program pertanian daerah pada 2027. (red)













