Janji Penempatan Nakes Tak Kunjung Terwujud, Kinerja Kadis Kesehatan Taliabu Dipertanyakan

Kepala Dinas Kesehatan, Nurbintan Talaohu. (Foto: istimewa)

JAZIRAHNUSANTARA – Penempatan tenaga kesehatan (nakes) di sejumlah desa di Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, hingga kini belum sepenuhnya terealisasi. Salah satunya di Desa Penu dan Desa Tubang, Kecamatan Taliabu Timur.

Kondisi tersebut menjadi sorotan karena sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Taliabu, Nurbintang Talaohu, menyampaikan bahwa pihaknya tengah melakukan pemetaan untuk menempatkan tenaga kesehatan di dua desa tersebut.

“Sementara mapping,” kata Nurbintang saat dikonfirmasi media beberapa waktu lalu.

Namun, setelah sekitar tiga bulan, belum juga ada informasi lanjutan mengenai realisasi penempatan tenaga kesehatan di Desa Penu dan Tubang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Taliabu, Nurbintan Talaohu, saat dikonfirmasi kembali mengenai perkembangan penempatan tenaga kesehatan (nakes) di dua desa tersebut mengatakan, seluruh proses pengajuan telah dilakukan dan saat ini masih menunggu tahapan selanjutnya.

“Sudah diajukan justifikasi semuanya, sementara berproses. Sudah diajukan semua ke Pak Sekda, tinggal menunggu SK. Kalau tidak salah, Senin tanggal 21 kemarin,” ujar Nurbintan saat dikonfirmasi media ini, Kamis (01/10/2026) melalui WhatsApp.

Sementara itu, Ketiadaan tenaga kesehatan di wilayah tersebut saat menjadi perhatian warga, terutama memasuki musim ombak. Kondisi laut yang tidak menentu dinilai menyulitkan warga ketika membutuhkan layanan kesehatan maupun pertolongan bagi ibu hamil.

Ketua BPD Desa Penu berharap pemerintah segera menempatkan tenaga kesehatan, khususnya bidan, di wilayah tersebut.

“Kalau bisa itu ada bidan, biar kalau ada yang sakit atau ibu hamil yang mau melahirkan itu langsung bisa ditangani. Kasihan kalau ombak, kong tidak ada, mau bagaimana sudah?” ujarnya.

Menurut warga, keterbatasan akses layanan kesehatan membuat mereka harus menempuh perjalanan laut ketika membutuhkan tenaga medis.

Salah seorang warga Desa Penu, Nani, mengungkapkan pengalaman keluarganya ketika membutuhkan tenaga kesehatan.

Ia mengatakan, saat ibunya sakit, keluarga harus memanggil bidan dari wilayah lain dengan menggunakan transportasi laut.

“Kemarin waktu mama sakit, itu panggil bidan di Tanjung Una, kasihan. Ih, doi minyak saja mahal Rp2 juta, tapi mau bagaimana. Tong (kami) perlu ini,” kata Nani.

Biaya tersebut disebut belum termasuk kebutuhan lain selama perjalanan. Kondisi itu dinilai semakin memberatkan warga ketika harus mendapatkan layanan kesehatan dalam situasi darurat.

Persoalan serupa juga disebut terjadi di sejumlah desa lain di wilayah Kabupaten Pulau Taliabu yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap tenaga kesehatan.

Belum terealisasinya penempatan nakes di sejumlah desa kemudian dikaitkan warga dengan program pemerintah daerah terkait pemerataan pelayanan kesehatan.

Keberadaan tenaga kesehatan hingga tingkat desa menjadi salah satu kebutuhan penting bagi masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki kendala akses transportasi dan sangat bergantung pada kondisi laut. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup