HUT ke-13, Pemkab Pulau Taliabu Dorong Pemerataan Listrik hingga 71 Desa
JAZIRAHNUSANTARA – Memasuki usia ke-13 pada April 2026, Kabupaten Pulau Taliabu menandai momentum penting yang tidak sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi titik balik menuju transformasi pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan.
Bupati Sashabila Mus menegaskan, peringatan hari jadi kali ini membawa satu tekad besar melalui visi “Menuju Terang Merata, Taliabu Maju Setara”, yang difokuskan pada pemerataan akses listrik di seluruh wilayah, termasuk 71 desa tanpa terkecuali.
Menurutnya, cahaya bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan simbol dimulainya peradaban. Dari penemuan api di masa lampau hingga listrik di era modern, terang telah menjadi fondasi utama dalam mendorong kemajuan manusia.
“Cahaya adalah lonceng pembuka peradaban. Di Taliabu, listrik bukan lagi hak istimewa, tetapi hak dasar setiap warga,” ujar Sashabila.
Ia menekankan, pembangunan tidak boleh lagi terpusat di wilayah perkotaan, melainkan harus menjangkau hingga ke pelosok desa, menyentuh langsung kehidupan masyarakat dari dapur hingga ruang keluarga.
Filosofi tersebut juga tercermin dalam logo HUT ke-13 yang menampilkan mercusuar sebagai simbol kepemimpinan. Bagi Sashabila, mercusuar bukan sekadar ornamen, tetapi representasi arah kebijakan yang berpihak pada wilayah yang selama ini terpinggirkan.
“Mercusuar itu memancar jauh, menembus batas, menjangkau mereka yang selama ini merasa terlewatkan,” katanya.
Komitmen menghadirkan listrik hingga ke seluruh desa disebut sebagai bukti nyata kehadiran negara. Ia menggambarkan momen ketika listrik pertama kali menyala di desa terpencil sebagai titik lahirnya harapan baru bagi masyarakat.
“Saat lampu menyala, harapan masyarakat ikut berpijar,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar infrastruktur, program “Terang Merata” juga dipandang sebagai investasi jangka panjang. Dengan akses listrik yang stabil, anak-anak dapat belajar lebih optimal di malam hari, sementara pelaku UMKM dan nelayan mampu meningkatkan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi, termasuk sistem pendingin untuk hasil tangkapan dan produksi.
Sashabila menambahkan, konsep “Taliabu Maju Setara” merupakan komitmen terhadap keadilan sosial, di mana tidak boleh ada lagi desa yang tertinggal dalam kegelapan sementara wilayah lain telah menikmati kemajuan.
“Kita bergerak dari ketimpangan menuju kesetaraan. Setiap masyarakat, dari pesisir hingga pedalaman, harus memiliki akses dan peluang yang sama untuk sejahtera,” tegasnya.
Di usia ke-13 ini, berbagai elemen pembangunan mulai terintegrasi—mulai dari simbol arah melalui mercusuar, implementasi program listrik, hingga perluasan jangkauan pelayanan dasar.
Pulau Taliabu kini tidak hanya menyalakan lampu untuk mengusir gelap, tetapi juga menyalakan obor peradaban modern sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Momentum ini menjadi penegasan bahwa seluruh desa berada pada garis awal yang sama, dengan peluang setara untuk berkembang dan maju bersama.
“Di usia ke-13, kita menyalakan cahaya sebagai simbol peradaban, menghadirkan terang yang merata agar setiap desa dapat tumbuh, maju, dan berdiri setara,” tandasnya. (red)










